Langsung ke konten utama

Analisis Soal B.INDO

 


    Dari data di atas, terlihat bahwa tingkat soal tidak ada yang menunjukkan sulit. Hal itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa soal-soal tersebut hanyalah soal LOTS. Hal itu dapat dibuktikan dengan perintah soal dari nomor 6 sampai 10 yang sudah C4 ke atas. Beberapa soal HOTS dapat dikerjakan siswa dengan baik, tapi banyak juga siswa yang tidak dapat mengerjakannya. Tidak dapat mengerjakan ini bukan berarti kosong, tidak diisi, melainkan diisi namun salah. Karena mereka sudah menguraikan panjang lebar, saya memberinya poin 1 atau 2 karena semestinya poin penuh 10 atau 20.

    Bebebapa siswa salah memahami soal. Contohnya adalah nomor 10 yang seharusnya memberikan solusi untuk kemajuan pendidikan di Indonesia, mereka malah memberikan solusi-solusi tentang perjual-belian otak. Padahal teks anekdot tersebut mengandung makna bahwa permasalahan yang terjadi di Indonesia adalah orang Indonesia jarang memakai otaknya. Padahal, pada soal LOTS mereka sudah dapat menjawab dengan benar perihal makna di balik teks anekdot tersebut.

    Beberapa siswa juga mengeluhkan soal yang mereka rasa sulit dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dapat mengerjakannya. Soal essai (HOTS) yang mendapat poin banyak justru mereka salah dan mendapat poin sedikit. Hal itu membuat nilai mereka banyak yang kecil. Mereka juga mengeluhkan jumlah kata yang diwajibkan di soal. Menurut mereka itu terlalu banyak. Namun menurut saya mereka lebih kesusahan dalam menghitung jumlah kata dan memahami soal dengan benar.

Komentar

  1. Jarang memakai otak tapi mungkin pakai hati atau nurani😄

    BalasHapus
  2. Pemahaman dalam membaca yg mungkin ditingkatkan bu, semangat terus

    BalasHapus
  3. Setuju dengan Pak Hartono... banyak baca... bayak nulis.. Semagat!

    BalasHapus
  4. Butuh referensi buku yang lebih relevan dengan hobi anak anak,

    BalasHapus
  5. Setelah di analisis selanjutnya soal akan digunakan lagi atau bagaimana bu?

    BalasHapus
  6. Mari sama sama kita upayakan agar anak antusias membaca

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Growth Mindset?

      Halo semua...     Hari ini saya akan merefleksi diri saya apakah sudah growth mindset ataukah masih fix mindset. Jika mengingat pemahaman dalam menyikapi masalah dan menjalani hidup yang telah saya lalui beberapa waktu terakhir rasanya saya sudah growth mindset. Salah satunya adalah tidak lagi menganggap musibah yang saya alami menjadi suatu momok menyeramkan yang mematikan segala mimpi dan penuh penyesalan. Saya telah menerima musibah atau masalah tersebut sebagai mahar yang harus saya lalui untuk kembali bangkit lebih kuat lagi dalam menginjakkan kaki di kehidupan yang akan saya jalani.     Namun, tentu saja saya belum sempurna dalam memiliki pemikiran yang berkembang atau  growth mindset. Ada beberapa hal yang kadang masih belum secara refleks terterima dengan growth mindset. Ketika terjadi masalah terkadang merasa sedih terlebih dulu, ada waktu untuk penerimaan baru setelah menenangkan diri, mengambil waktu sejenak untuk menghela napas p...

Healing

      Hari ini saya senang sekaliiii.... Pasalnya, saya sudah lama tidak healing healing cantik kayak istilah anak zaman sekarang untuk menyebut jalan-jalan. Apalagi ke pantai, uhhh sudah lama sekalii tidak menginjakkan kaki di pasir putih ya meskipun warna sebenarnya coklat sih. Mendengar deburan ombak yang samar-samar. Melihat birunya langit yang berdialog dengan birunya air laut. Makan pop mie yang tidak diperbolehkan Bu Capri, tetapi tetap membeli sendiri wkwk maaf ya Bu... Soalnya lapar dan sudah seperti menjadi adat anak muda ini makan pop mie kalau di pantai hehe...     Selain bermain air, pasir, dan berfoto-foto ria. Kami juga bermain games menebak isi di dalam tas yang dimaksudkan sang pemilik barang untuk nantinya diberikan kepada orang yang berhasil menebak dengan benar. Kami secara bergantian melakukannya yang dimulai oleh Bu Capri yang ternyata isinya adalah kurma dan berhasil ditebak oleh Pak Macfud. Kemudian, Bu Mila yang isinya lotion yang berhas...

Sepotong Cerpen

DILEMA Di atas mobil pick up yang melaju di jalanan Solo-Jogja, aku mengistirahatkan sejenak segala pekerjaan yang semestinya aku kerjakan. Aku berada di jalan pulang, setelah mengepak semua baju dan buku untuk kunaikkan di bak pick up milik bapakku. Memang ini kendaraan milik bapak sendiri, tapi bukan bapak yang menyetirnya. Aku ditemani seorang supir, teman baik sekaligus orang kepercayaan bapak. Bukan karena bapak tak sempat, melainkan ada rasa tidak ikhlas jika aku berpindah dari daerah istimewa yang katanya mendewasakan rindu dan menjatuhkan hati setiap pendatangnya untuk ingin menetap di sana. Bapak menghendakiku melanjutkan sekolah untuk mendapatkan gelar magister. Namun, otakku terlampau lelah untuk diajak berpikir lagi sebagai mahasiswa dari universitas ternama di Indonesia. Setelah kucermati, kata lelah tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya terjadi pada diriku. Pasalnya, aku sekarang menerima jasa penyuntingan skripsi dan tesis. Meskipun aku belum menjadi mahasiswa ...