Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2022

Bulan Bahasa with Sumpah Pemuda

 Setelah September Ceria, lahirlah Oktober Bulan Bahasa. Biasanya bulan Oktober dipenuhi dengan lomba-lomba sastra, entah kepenulisan karya sastra ataupun pembacaan puisi. Selain menjadi Bulan Bahasa, Oktober juga menjadi bulan diperingatinya sumpah pemuda. Untuk itu, Safin Pati Sport School mengolaborasikan Bulan Bahasa yang jatuh pada tanggal 22 Oktober dan hari Sumpah Pemuda yang bertepatan pada tanggal 28 Oktober menjadi satu kesatuan projek pelajar pancasila.  Dalam projek ini, dihasilkan pementasan drama dari kelas 7 SMP hingga kelas 12 SMA. Penampilan drama dari masing-masing kelas diperlombakan dari tanggal 25 hingga 27 Oktober. Dari pementasan drama selama tiga hari tersebut, akan diunggah pada keesokam harinya untuk memeringati hari sumpah pemuda. Kemudian, pada hari Sabtunya menjadi hari puncak projek pelajar pancasila yang bertema Bangunlah Jiwa Raganya. Sementara itu, tema drama diperoleh dari pengolaborasian profil pelajar pancasila, sastra, dan peringatan sumpah...

Webinar Berbinar

 Malam ini agak lain dari malam-malam biasanya karena malam ini saya mendapatkan ilmu yang berharga. Ibu Dayang yang sudah lebih tua dari saya, yang sudah lebih dari separuh baya, tetapi semangatnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri sebagai pendidik sangatlah besar. Sosok ibu ini memancarkan aura yang positif. Senyumnya selalu merekah merona di pipinya. Mengajar dengan penuh semangat dan bahagia. Beliau selalu memberikan kebahagiaan kepada muridnya di setiap proses pembelajaran. Saya tahu betul hal itu tidaklah mudah. Harus ada kemauan kuat dan persiapan yang tidak main-main tentunya. Yang bisa saya tiru dari Bu Dayang adalah kesabarannya, kegigihannya, semangatnya, dan tentu jiwa pendidiknya yang luar biasa. Semoga kelak saya bisa seperti Bu Dayang meski harus bisa menaklukkan halang rintangan. Sekali lagi, ilmu yang berharga ini saya dapat dari webinar melalui zoom. Padahal, biasanya webinar, baik online maupun offline, sangat membosankan. Namun, kali ini sangat mengasyi...

Sepotong Cerpen

DILEMA Di atas mobil pick up yang melaju di jalanan Solo-Jogja, aku mengistirahatkan sejenak segala pekerjaan yang semestinya aku kerjakan. Aku berada di jalan pulang, setelah mengepak semua baju dan buku untuk kunaikkan di bak pick up milik bapakku. Memang ini kendaraan milik bapak sendiri, tapi bukan bapak yang menyetirnya. Aku ditemani seorang supir, teman baik sekaligus orang kepercayaan bapak. Bukan karena bapak tak sempat, melainkan ada rasa tidak ikhlas jika aku berpindah dari daerah istimewa yang katanya mendewasakan rindu dan menjatuhkan hati setiap pendatangnya untuk ingin menetap di sana. Bapak menghendakiku melanjutkan sekolah untuk mendapatkan gelar magister. Namun, otakku terlampau lelah untuk diajak berpikir lagi sebagai mahasiswa dari universitas ternama di Indonesia. Setelah kucermati, kata lelah tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya terjadi pada diriku. Pasalnya, aku sekarang menerima jasa penyuntingan skripsi dan tesis. Meskipun aku belum menjadi mahasiswa ...

Opini

 Setelah mendengar video singkat yang diutarakan oleh Ghana, menteri pendidikan di Afrika, saya menangkap maksud yang ingin disampaikan seperti ini, Dalam kurikulum anak harus dirancang untuk berpikir kritis dan berkarakter. Pendidik harus merancang cara untuk menjinakkan anak agar ketika orang dewasa berbicara mereka diam mendengarkan. Hal ini tentu sangat baik untuk diterapkan. Saya setuju dengan hal itu. Siswa tidak hanya dididik untuk mengetahui materi saja yang sebentar lagi juga lupa, tetapi juga dididik cara berpikirnya sehingga membentuk karakter dirinya. Siswa juga membutuhkan pengajaran kehidupan tentang kesehatan mental diri dan orang lain, seperti cara mengolah emosi. Di Indonesia jika hendak diberlakukan seperti itu, butuh sosialisasi ke orang tua karena orang tua yang pikirannya masih belum bisa terbuka akan banyak protes atas pengajaran di sekolah yang diterima anaknya. Contohnya, harus ada buku paket tebal, harus pelajaran penuh teori, dan lain sebagainya. Jadi, pen...

Tragedi Kanjuruhan

Tidak ada sepak bola yang setara dengan nyawa! Banyak sekali kalimat-kalimat yang hampir serupa dengan makna yang sama kita temui di media sosial sejak hari Minggu dini hari, lebih banyaknya ketika pagi. Unggahan pita hitam dan ucapan bela sungkawa bersliweran di status banyak orang. Aku menilik kehebohan itu, batinku menelisik. Pertanyaan demi pertanyaan mengusik pikiranku. "Apakah tidak bisa menertibkan dengan cara lain?" atau "Mengapa harus menyemprotkan gas air mata ke tribun dan pintu dikunci? Mengapa tidak menyemprotkannya ke orang-orang yang turun ke lapangan saja?" makin liar analisisku "Apakah ini tragedi yang trlah direncanakan? Mengingat banyak sekali hal-hal janggal dan terkesan tidak memakai pikiran jernih". Sebelum mengambil keputusan tentu pihak keamanan memikirkan dulu dampak yang akan ditimbulkan. Setidaknya, mereka tidak berkerja semaunya sendiri. Pasti ada komando untuk melakukan hal itu. Berita sana-sini cenderung menyalahkan suporter s...