URIP IKU SAWANG SINAWANG
Selalu lebih mudah menilai daripada menjalani, itulah hidup. Hidup yang dijalani terasa berat dan banyak rintangan. Namun, hidup orang lain terlihat ringan dan penuh kebahagiaan. Padahal, jika kita menjadi mereka belum tentu kita dapat menjalaninya. Begitu pula sebaiknya. Kita merasa berat karena kita yang mengalaminya. Sementara hidup orang lain terasa lebih ringan, bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kesulitan hidup kita, hal itu karena kita hanya melihat. Lebih dari itu, yang kita lihat hanyalah yang baik-baiknya, seneng-senengnya. Kita tidak pernah tahu di balik kebahagiaan yang diterimanya ada penderitaan yang seperih apa. Terlebih jika kita hanya melihatnya dari media sosial tanpa melihat kehidupan nyatanya. Yang terlihat bahagia belum tentu benar-benar sedang baik hatinya, bukan berarti dia baik-baik saja. Kita tidak pernah benar-benar tahu hidup manusia lain, sedekat apa pun kita.
Beginilah ceritaku minggu ini. Yang katanya libur, apakah benar libur?
Setelah PTS usai, tugas berat seorang guru adalah mengoreksi dan menginput nilai. Apalagi jika harus mengoreksi SMP dan SMA yang tentu saja jumlahnya tidak sedikit. Jika mengoreksi pilihan ganda saja tentu bisa selesai dengan cepat. Namun, dari 10 soal, yang pilihan ganda hanyalah satu. Sementara itu, ada 5 soal essai yang perlu menghitung jumlah kata selain mengoreksi substansi jawabannya. Bahasa Indonesia bukanlah ilmu pasti. Jawaban tentu dapat berbeda jika argumen yang disampaikan kuat atau kata yang digunakan masih satu maksud dengan kunci jawaban. Belum lagi menilai kreativitas siswa dalam menuliskan berbagai teks yang jelas tidak ada kunci jawaban sakleknya. Menjumlah skor dan menjadikannya nilai ke dalam rapor tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu banyak proses input di sana. Belum lagi tugas wali kelas untuk membuat rapor kelas 7. Mengisi biodata. Nilai dari guru-guru yang mengampu pelajaran dimasukkan dan proses lain-lainnya hingga jadilah rapor masing-masing anak dalam wujud file pdf.
Tibalah hari rapor dikirimkan ke orang tua. Orang tua siswa, apalagi kelas 7, tentu tidak langsung terima saja melihat rapor anaknya. Banyak di antaranya yang mempertanyakan alasan anaknya mendapatkan nilai-nilai tersebut. Ada juga yang protes dengan kalimat chat yang tidak lagi santai. Sabtu malam minggu, bahkan hari Minggu masih harus dengan sabar membalas orang tua.
Senin pagi kami sudah harus zoom dan mendapatkan tugas tambahan yang ternyata tidak hanya menganalisis soal seacra kognitif dan alasannya saja, tetapi juga harus menganalisis soal dalam kaitannya dengan tingkat ketercapaian siswa. Dengan demikian, kita harus memasukkan skor masing-masing nomor dari lembar jawab siswa. Hal itu tentu tidak sebentar. Belum lagi membaca dan mengomentari blog. Dan tak lupaa juga menulis blog untuk minggu ini. Eits tidak hanya itu saja, dari Senin sampai Jumat sampai jam setengah sepuluh malam masih harus zoom webinar. Tentu saja tidak hanya itu saja, saya masih harus memikirkan ATP dan MA yang tentu tidak hanya dipikirkan, tapi juga dibuat. Eh tiba-tiba sudah Sabtu pagi dan harus berangkat lagi.
Jadi apakah itu liburan yang ada di pikiranmu? hehehe...
Halo semua... Hari ini saya akan merefleksi diri saya apakah sudah growth mindset ataukah masih fix mindset. Jika mengingat pemahaman dalam menyikapi masalah dan menjalani hidup yang telah saya lalui beberapa waktu terakhir rasanya saya sudah growth mindset. Salah satunya adalah tidak lagi menganggap musibah yang saya alami menjadi suatu momok menyeramkan yang mematikan segala mimpi dan penuh penyesalan. Saya telah menerima musibah atau masalah tersebut sebagai mahar yang harus saya lalui untuk kembali bangkit lebih kuat lagi dalam menginjakkan kaki di kehidupan yang akan saya jalani. Namun, tentu saja saya belum sempurna dalam memiliki pemikiran yang berkembang atau growth mindset. Ada beberapa hal yang kadang masih belum secara refleks terterima dengan growth mindset. Ketika terjadi masalah terkadang merasa sedih terlebih dulu, ada waktu untuk penerimaan baru setelah menenangkan diri, mengambil waktu sejenak untuk menghela napas p...
Melihat memang mudah, tapi dibalik yang mereka lihat ada proses yang luarbiasaa
BalasHapusrumput tetangga lebih hijau tapi burung sendiri lebih merdu berkicau😅
BalasHapussawang si nawang
Hapus