DILEMA
Di atas mobil pick up yang melaju di jalanan Solo-Jogja,
aku mengistirahatkan sejenak segala pekerjaan yang semestinya aku kerjakan. Aku
berada di jalan pulang, setelah mengepak semua baju dan buku untuk kunaikkan di
bak pick up milik bapakku. Memang ini kendaraan milik bapak sendiri, tapi bukan
bapak yang menyetirnya. Aku ditemani seorang supir, teman baik sekaligus orang
kepercayaan bapak. Bukan karena bapak tak sempat, melainkan ada rasa tidak
ikhlas jika aku berpindah dari daerah istimewa yang katanya mendewasakan rindu
dan menjatuhkan hati setiap pendatangnya untuk ingin menetap di sana.
Bapak menghendakiku melanjutkan sekolah untuk mendapatkan
gelar magister. Namun, otakku terlampau lelah untuk diajak berpikir lagi
sebagai mahasiswa dari universitas ternama di Indonesia. Setelah kucermati,
kata lelah tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya terjadi pada diriku.
Pasalnya, aku sekarang menerima jasa penyuntingan skripsi dan tesis. Meskipun
aku belum menjadi mahasiswa S2, aku sudah membantu orang lain untuk menuju
titel magister dengan memperbaiki tesisnya. Yang itu artinya, otakku harus
berpikir selayaknya mahasiswa S2 karena menyunting juga harus paham mengenai
konteks kalimatnya. Tidak begitu susah menurutku untuk bisa memahaminya, apalagi
aku sudah mendapatkan materi ini sewaktu kuliah S1 dulu. Lagi pula, aku
mendapat kepercayaan menyunting tesis temannya katingku ini karena predikatku
sebagai lulusan tercepat sefakultas dari angkatanku dan dengan ipk yang lumayan
tinggi tentunya. Hal itulah yang membuat bapak menyayangkan keputusanku untuk
lebih memilih mencari uang ketimbang melanjutkan studi.
"Eman, Nduk!
Banyak yang ingin kuliah di universitas itu dan ndak diterima. Kamu kok malah
menyia-nyiakannya kesempatan begitu saja. Tinggal sekolah saja lho, nggausah
mikirin biaya. Tugasmu hanya belajar, bapak yang mikir cari uang."
Bukan tanpa alasan bapak bisa bilang seperti itu.
Pemikiran itu juga muncul dari banyak orang yang mendukungku untuk melanjutkan
studi. Mulai dari teman-teman sekelas yang tahu rekam jejak akademikku. Kakak
organisasi yang katanya melihat potensi dalam diriku. Bahkan, dosen pembimbing
skripsi yang selalu mengelu-elukanku di setiap kelas yang beliau ajar.
Sampai-sampai adik tingkat banyak yang mengenal dan mengontak diriku untuk
sekadar bertanya tentang materi kuliah dan cara lulus cepat. Tidak hanya itu,
dosen pembimbing akademikku pun menyarankanku untuk lanjut studi ke luar
negeri.
Ditunggu kabar Bu Putri menunaikan nasehat Bapak jenengan, ilmu itu nikmat 😊
BalasHapusIngat quotes dari Pak Bay
BalasHapusMasyaAllah, sangat luarbiasa temanku satu ini, pengalaman banyak, koneksi banyak, saya mendukung untuk s2nya kaka,
BalasHapusLuarrr biasa, semoga ada kesempatan lagi untuk melanjutkan,
BalasHapusditunggu lanjutannya
BalasHapusSelama ada kesempatan diambil saja, daripada jadi penyesalan di masa depan
BalasHapusSemakin tinggi ilmu semakin banyk peluang menang.. semakin banyak teman semakin banyak rejeki datang.
BalasHapus