Tidak ada sepak bola yang setara dengan nyawa!
Banyak sekali kalimat-kalimat yang hampir serupa dengan makna yang sama kita temui di media sosial sejak hari Minggu dini hari, lebih banyaknya ketika pagi. Unggahan pita hitam dan ucapan bela sungkawa bersliweran di status banyak orang.
Aku menilik kehebohan itu, batinku menelisik. Pertanyaan demi pertanyaan mengusik pikiranku. "Apakah tidak bisa menertibkan dengan cara lain?" atau "Mengapa harus menyemprotkan gas air mata ke tribun dan pintu dikunci? Mengapa tidak menyemprotkannya ke orang-orang yang turun ke lapangan saja?" makin liar analisisku "Apakah ini tragedi yang trlah direncanakan? Mengingat banyak sekali hal-hal janggal dan terkesan tidak memakai pikiran jernih". Sebelum mengambil keputusan tentu pihak keamanan memikirkan dulu dampak yang akan ditimbulkan. Setidaknya, mereka tidak berkerja semaunya sendiri. Pasti ada komando untuk melakukan hal itu.
Berita sana-sini cenderung menyalahkan suporter saja. Mungkin iya, pemicunya adalah suporter yang tidak tertib. Namun, efek sampai melayangkan ratusan nyawa diakibatkan oleh pengambilan tindakan yang tidak tepat dari pihak keamanan. Ada juga vn penonton yang berada di lokasi yang mengatakan tidak ricuh pada mulanya. Hanya ada beberapa orang yang turun ke lapangan saja, tapi aparat langsung menyemprotkan gas air mata yang menbabi buta ke tribun.
Terlepas dari kebenaran yang ada, karena aku juga tidak ada di lokasi sehingga tidak bisa memastikan informasi yang valid, hal ini tentu perlu dikaji oleh pemerintah. Aparat tetap mengambil andil dalam tragedi yang terjadi, entah alasannya mulia atau bagaimana. Nyatanya pernah terjadi kerusuhan suporter tapi tidak terjadi tragedi.
Dari kacamata sebagai pendidik, aku merasa bahwa pendidikan mereka mungkin kurang berhasil, entah si suporter yang memicu atau dari aparat yang mengambil keputusan dan tindakan. Ki Hajar Dewantara menghendaki dua tujuan pendidikan di Indonesia, bisa bertahan hidup dan bahagia. Namun, jauh dari itu tujuan pendidikan adalah bisa memanusiakan manusia. Hatiku pum terketuk untuk menanamkan dalam diri siswa bahwa sangat penting bagi diri memanusiakan manusia. Sekolah tidak hanya belajar teori yang akhirnya dilupakan setelah lulus, tapi juga belajar ilmu kehidupan yang membuat mereka bermanfaat dan tidak melukai masyarakat.
Karakter perlu ditanamkan yaitu tertib, taat prosedur, dan supportif (menang kalah hal biasa)
BalasHapusPerbaikan dari berbagai pihak perlu di tingkatkan
BalasHapusUntung tidak ada di lokasi, itu snagat berbahaya
BalasHapusMaaf, kali ini aku menyayangkan tindakan aparatur yang semena-mena
BalasHapusjangan hanya sepporter yang diedukasi tapi aparat pun hasil diberi edukasi
BalasHapus