![]() |
| Ratu Kalinyamat dan Perjuangannya |
Jika seorang wanita telah sakit hatinya, lautan pun akan merah dibuatnya.
Kalimat di atas terlintas begitu saja di otak saya ketika menilik kisah gaharnya Ratu Kalinyamat sebagai panglima perang dalam melawan penjajah.
Siapa tak kenal Ratu Kalinyamat? Tentu saja banyak, barangkali kamu yang sedang membaca juga tak pernah mendengar namanya. Atau jangan-jangan dengan membaca judul blog ini, kamu mengira Nyi Roro Kidul? Big no, ini adalah kisah wanita kelahiran Jepara, yaitu putri Sultan Trenggono, Raja Kesultanan Demak Bintoro yang ke 3.
Seorang Raden Ajeng yang bernama lengkap R.A. Retno Kencono merasa sangat terpukul karena kakang mas dan suaminya dibunuh oleh orang suruhan Arya Penangsang, musuh kerajaannya. Hal itu membuatnya melakukan "Topo Wudo Sinjang Rikma" yang artinya bertapa dengan tubuh telanjang, hanya berkainkan uraian rambutnya. Isu buruk banyak bersliweran di masyarakat mengenai Ratu Kalinyamat, seperti respons seseorang ketika mendengar namanya, "O ratu yang bertapa telanjang itu ya?". Bahkan, hal itu mampu membuatnya ditolak sebagai pahlawan nasional dalam usulan pertama.
Istilah itu tentu tidak bisa diartikan secara harfiah karena yang dimaksud dengan telanjang adalah melepaskan atribut kerajaannya, tidak memakai perhiasan dan pakaian yang bagus. Dia menyepi di Goa Sonder, Gunung Danaraja, dalam rangka masa iddah atas meninggalnya sang suami karena dia adalah seorang muslimah yang taat. Dalam kultur Jawa, masa iddah seorang istri selama 40 hari tidaklah boleh keluar dari rumahnya. Bahkan, sampai sekarang pun tradisi itu masih dijalankan beberapa orang, termasuk ibu saya ketika ayah saya meninggal dunia.
Tidak berlarut-larut dalam kesedihan, tanggung jawabnya menjadi pemimpin membuatnya bangkit menjadi Ratu Kalinyamat. Ratu penguasa lautan ini fakta, bukan mitos. Jika penasaran silakan saja main ke Jepara, tepatnya di daerah Kalinyamatan.
Pahlawan wanita dari Jepara ini begitu antikolonialisme. Bahkan, sebelum penjajah bergerak, dia lebih dulu menyerang sebagai wujud keberanian dan harga diri bangsa. Ratu Kalinyamat memberangkatkan 40 kapal yang berisi 4.000 sampai 5.000 prajurit bersenjata untuk melawan Portugis. Tidak hanya itu, serangan kedua pun dilancarkannya karena Portugis mengganggu jalur perdagangan di Selat Malaka. Perlawanannya itu membuat Jepara disegani oleh bangsa-bangsa lain. Terlebih, Ratu Kalinyamat mampu membuktikan pada dunia bahwa peradaban nusantara mempunyai pengetahuan kemaritiman yang luas. Kedua perlawanan yang dilakukannya membuat Ratu Kalinyamat dijuluki sebagai De Kange Dame, yaitu perempuan gagah berani.
Fyi, dulu saya sangat kagum dengan perjuangan Cut Nyak Dien dalam melawan penjajah. Bahkan, saya dibuat menangis tersedu-sedu saat menonton filmnya ketika Cut Nyak ditangkap oleh penjajah karena pengkhianatan panglima perangnya. Namun, suatu ketika saya melihat video di youtube, yaitu kolaboran Bakar Production dan Mbah Sujiwo Tedjo. Video itu mengisahkan makna Topo Wudo Ratu Kalinyamat yang sebenarnya tidaklah seperti kabar buruk yang tersebar di kalangan masyarakat. Dari situlah saya mengenal Ratu Kalinyamat. Perjuangan Ratu Kalinyamat patut disandingkan dengan Cut Nyak Dien dan pahlawan wanita lainnya. Oleh karena itu, dalam kesempatan menuliskan blog ini, saya berusaha mengangkatnya dengan harapan akan ada satu dua orang mengenalnya.
Jika ditelisik lebih jauh, perjuangan Ratu Kalinyamat tidak hanya melawan penjajah saja. Saya juga baru mengetahuinya setelah membaca beberapa artikel di mbah google. Ratu Kalinyamat telah membangun perekonomian di Jepara dengan membentuk industri galangan kapal dan industri ukir. Selain itu, Ratu Kalinyamat juga mendirikan Masjid Mantingan di dekat makam suaminya. Saat ini, masjid tersebut masih terkelola dengan baik dan menjadi pusat pendidikan pesantren bagi anak-anak. Bahkan, masjid tersebut menjadi masjid tertua kedua di Jawa, setelalah Masjid Agung Demak.
Perjuangan Ratu Kalinyamat ini merupakan bukti nyata seorang Drupadi atau Srikandi dalam dunia pewayangan. Drupadi yang dikisahkan menjadi panglima perang pandawa dalam melawan kurawa menjadi bukti kedigdayaan wanita. Dalam dunia nyata, Ratu Kalinyamat adalah perwujudan dari drupadi yang tentu kisahnya lebih epik dan penuh perjuangan. So, kalau kamu tertarik dengan kisahnya silakan berselancar di mbah google atau youtube ya 😊.

Pemaknaan kita sesuai keluasan wawasan, "telanjang" atau "melepas" itu apakah tersurat atau tersirat😊
BalasHapusHayo kira2 apa bu dwi?
HapusWah jadi penasaran lebih lanjut perjuangan ratu kalinyamat
BalasHapusSecara geografis dekat kita ya, cuma yang ditahu orang rata2 hanya R. A Kartini
HapusPahlawan yang secara geografis sangat dekat dengan pati, perlu dieksplore lebih lanjut kak,
BalasHapusTelanjang, bukan berarti tanpa pakaian namun telanjang disini ada makna tersirat yaitu melepas segala sesuatu yang berhubungan dengan duniawi (tahta dll) bukan begitu Bu Putri?
BalasHapussaya kira nyi roro kidul aja hehehe
BalasHapus