Langsung ke konten utama

Selamat Ulang Tahun....

 

Anniversary Safin Pati Sport School
        10 November adalah hari yang diperingati oleh bangsa Indonesia sebagai hari pahlawan. Namun, bagi civitas akademika Safin Pati Sport School, tanggal 10 November juga merupakan hari kelahiran Safin Pati Sport School atau yang lebih kerap disingkat menjadi SPSS. Dulu, sebelum berganti nama, kelahiran SPSS bernama SPFA, yaitu Safin Pati Football Academy. Hal itu karena pada mulanya akademi ini hanya berfokus pada sepak bola saja. Namun, pada perjalanannya, akademi ini telah berkembang sehingga namanya pun turut berubah.

        Tanggal 10 November yang ketika pada tahun ini jatuh pada hari Kamis. Kami memeringatinya dengan acara sederhana, tapi tak meninggalkan makna di baliknya. Pemotongan tumpeng dilakukan oleh Pembina Yayasan Safin Bina Bangsa. Setelah itu, barulah ada penampilan stand up comedy dan group band dari siswa-siswa SPSS.

        Acara, yang diiringi guntur dan derasnya curah hujan ini, cukup berjalan dengan baik. Para guru berperan mengondisikan siswa dan mengatur saat makan nasi kuning yang terlalu lembek ehe.... Namun, karena setelah penampilan siswa diisi dengan dangdut sampai jam 9 lebih sedikit, banyak siswa yang sudah mengantuk dan kembali ke mess. Padahal, besok ada latihan pagi. Oleh karena itu, camilan kulit kacang dan gelas-gelas kertas masih ada yang berserakan. Chef dan mas kebersihan yang dibantu oleh guru-guru membersihkannya. Mungkin akan lebih baik jika acara diakhiri sebelum jam sembilan dan kebersihan diingatkan kepada para siswa. Opsi yang lain adalah acara dimulai sore hari atau hari yang besoknya libur latihan pagi. But, over all sih sudah oke...

        Selamat mengulang hari kelahiran Safin Pati Sport School. Semoga sukses menjadi wadah untuk anak-anak Indonesia dalam mengembangkan dirinya dalam bidang sepak bola pun bidang akademiknya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Growth Mindset?

      Halo semua...     Hari ini saya akan merefleksi diri saya apakah sudah growth mindset ataukah masih fix mindset. Jika mengingat pemahaman dalam menyikapi masalah dan menjalani hidup yang telah saya lalui beberapa waktu terakhir rasanya saya sudah growth mindset. Salah satunya adalah tidak lagi menganggap musibah yang saya alami menjadi suatu momok menyeramkan yang mematikan segala mimpi dan penuh penyesalan. Saya telah menerima musibah atau masalah tersebut sebagai mahar yang harus saya lalui untuk kembali bangkit lebih kuat lagi dalam menginjakkan kaki di kehidupan yang akan saya jalani.     Namun, tentu saja saya belum sempurna dalam memiliki pemikiran yang berkembang atau  growth mindset. Ada beberapa hal yang kadang masih belum secara refleks terterima dengan growth mindset. Ketika terjadi masalah terkadang merasa sedih terlebih dulu, ada waktu untuk penerimaan baru setelah menenangkan diri, mengambil waktu sejenak untuk menghela napas p...

Healing

      Hari ini saya senang sekaliiii.... Pasalnya, saya sudah lama tidak healing healing cantik kayak istilah anak zaman sekarang untuk menyebut jalan-jalan. Apalagi ke pantai, uhhh sudah lama sekalii tidak menginjakkan kaki di pasir putih ya meskipun warna sebenarnya coklat sih. Mendengar deburan ombak yang samar-samar. Melihat birunya langit yang berdialog dengan birunya air laut. Makan pop mie yang tidak diperbolehkan Bu Capri, tetapi tetap membeli sendiri wkwk maaf ya Bu... Soalnya lapar dan sudah seperti menjadi adat anak muda ini makan pop mie kalau di pantai hehe...     Selain bermain air, pasir, dan berfoto-foto ria. Kami juga bermain games menebak isi di dalam tas yang dimaksudkan sang pemilik barang untuk nantinya diberikan kepada orang yang berhasil menebak dengan benar. Kami secara bergantian melakukannya yang dimulai oleh Bu Capri yang ternyata isinya adalah kurma dan berhasil ditebak oleh Pak Macfud. Kemudian, Bu Mila yang isinya lotion yang berhas...

Sepotong Cerpen

DILEMA Di atas mobil pick up yang melaju di jalanan Solo-Jogja, aku mengistirahatkan sejenak segala pekerjaan yang semestinya aku kerjakan. Aku berada di jalan pulang, setelah mengepak semua baju dan buku untuk kunaikkan di bak pick up milik bapakku. Memang ini kendaraan milik bapak sendiri, tapi bukan bapak yang menyetirnya. Aku ditemani seorang supir, teman baik sekaligus orang kepercayaan bapak. Bukan karena bapak tak sempat, melainkan ada rasa tidak ikhlas jika aku berpindah dari daerah istimewa yang katanya mendewasakan rindu dan menjatuhkan hati setiap pendatangnya untuk ingin menetap di sana. Bapak menghendakiku melanjutkan sekolah untuk mendapatkan gelar magister. Namun, otakku terlampau lelah untuk diajak berpikir lagi sebagai mahasiswa dari universitas ternama di Indonesia. Setelah kucermati, kata lelah tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya terjadi pada diriku. Pasalnya, aku sekarang menerima jasa penyuntingan skripsi dan tesis. Meskipun aku belum menjadi mahasiswa ...