Selepas PAS terbitlah tumpukan lembar jawab yang musti dikoreksi. Ngomong-ngomong soal mengoreksi, dulu sewaktu sekolah guru memintaku dan teman sekelas untuk mengoreksi seluruh jawaban siswa yang diajar olehnya. Kami diminta untuk mengoreksi pilihan ganda yang jumlahnya 30 sampai 50 soal. Sisanya soal essay biasanya hanya 5 soal untuk dikoreksinya secara pribadi karena jika siswa yang mengoreksi tidak bisa. Soal essay memiliki kemungkinan jawaban yang beragam dan hanya guru yang bersangkutan yang dapat menentukan benar dan salahnya. Terlebih lagi, untuk bisa mengira-ngira poinnya.
Sebenarnya, hal itu dapat diantisipasi dengan kriteria yang detail dan jelas. Namun, tetap saja, soal essay itu berkaitan dengan cara siswa dalam menarasikan jawabannya. Jika siswa lain menganggapnya salah, mungkin itu benar di cara penjelasan yang berbeda. Berbahasa dan berargumentasi tidak ada yang benar mutlak dan salah mutlak. Kebenaran itu bisa tergantung alasannya, apakah logis atau tidak.
Cara guru mengoreksi pun berbeda-beda. Ada yang kreatif dengan mika yang telah dikotak-kotak dengan spidol pada jawaban yang benar sehingga hanya dengan menempelkan mika di atas lembar jawab kita bisa menghitung berapa nomor yang benar dengan melihat berapa silangan di dalam kotak. Tentu saja hal itu sangat memudahkan kinerja dan membuatnya lebih efektif dan efisien. Ada juga yang manual dengan menuliskan kunci jawaban di papan tulis. Lalu, siswa tinggal mengoreksi.
Sayangnya, hal itu tidak bisa diterapkan dengan efektif di Sekolah Terpadu Bina Bangsa. Karena apa hayo??? Kamu nanyea? Kamu bertanya-tanya? Biar aku jawab ya.
Sekolah Terpadu Bina Bangsa memiliki seorang konsultan pendidikan yang luar biasa sehingga mengembangkan kualitas gurunya sehingga insyaallah luar biasa. Hal itu bisa dilihat salah satunya dengan bentuk soal tesnya. Jenis soal beragam dan jelas poinnya. Pertanyaan juga tidak sekadar lost yang berpaku hanya pada teori saja, tapi mengasah kemampuan berpikir siswa. Hal itu membuat kinerja guru dalam mengoreksi juga berbeda. Melelahkan memang, tapi ya sudah semestinya begitu tugas seorang pendidik.
Belum lagi, setelah itu menginput nilai rapor dengan kurikulum yang berbeda. Apalagi jika permintaannya berbeda-beda terus wkwk semangattt!!!!

Nanyea kamu? dibalik ya😅
BalasHapus