Langsung ke konten utama

321 Zoom Meeting with Parents


    Tiga hal menarik yang saya dapatkan dari zoom meeting with parents SMP Terpadu Bina Bangsa adalah cara berpikir orang tua. Ketika dibuka termin pertanyaan, ayah dari Jiyin kelas 8 menanyakan hal yang menarik buat saya, yaitu alasan krusial apa yang mendasari perubahan jadwal sekolah dan peraturan asrama mengenai pembagian ponsel. Ternyata, ada orang tua yang kritis dalam menyikapi perubahan ini. Dari penuturan yang tidak menjudge dan penyampaiannya yang bagus.
    Setelah itu, ada usulan dari ibu Fatan mengenai hapalan dan jadwal anak mengaji. Selain itu, juga ada ibu Hafiz yang meminta dikembangkannya bahasa Inggris anak-anak. Dari ketiga penyampaian orang tua jujur saya kagum dan mau tidak mau membandingkan dengan respons orang tua siswa SMA. Ketiganya pun mementingkan pendidikan anaknya. Dan satu lagiii, penyampaian Bu Capri yang selalu mengesankan dalam merespons berbagai macam orang tua. Semoga kelak saya bisa seperti Bu Capri.
    Dua hal yang bisa ditingkatkan adalah kualitas signal para tim SPSS dan kualitas suara. Dengan kualitas signal dan suara, penyampaian jawaban dan respons terhadap orang tua siswa menjadi terganggu dan kurang terdengar jelas. Oleh karena hal teknis tersebut bisa disiasati di kemudian hari jika diadakan acara lagi.
    Satu hal yang saya harapkan adalah dilakukannya zoom meeting secara rutin kepada orang tua sehingga orang tua bisa memantau perkembangan anak dari sisi guru, tidak hanya menebak-nebak dari orang tua siswa lain atau kabar dari anak yang mungkin disampaikan secara subjektif.

Komentar

  1. Aamiin ya Allah🙇‍♀️
    Bu Putri kelak bisa seperti Bu Capri. Keep learning😊

    BalasHapus
  2. Sinyal internet perlu diperhatikan ya kak

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Growth Mindset?

      Halo semua...     Hari ini saya akan merefleksi diri saya apakah sudah growth mindset ataukah masih fix mindset. Jika mengingat pemahaman dalam menyikapi masalah dan menjalani hidup yang telah saya lalui beberapa waktu terakhir rasanya saya sudah growth mindset. Salah satunya adalah tidak lagi menganggap musibah yang saya alami menjadi suatu momok menyeramkan yang mematikan segala mimpi dan penuh penyesalan. Saya telah menerima musibah atau masalah tersebut sebagai mahar yang harus saya lalui untuk kembali bangkit lebih kuat lagi dalam menginjakkan kaki di kehidupan yang akan saya jalani.     Namun, tentu saja saya belum sempurna dalam memiliki pemikiran yang berkembang atau  growth mindset. Ada beberapa hal yang kadang masih belum secara refleks terterima dengan growth mindset. Ketika terjadi masalah terkadang merasa sedih terlebih dulu, ada waktu untuk penerimaan baru setelah menenangkan diri, mengambil waktu sejenak untuk menghela napas p...

Healing

      Hari ini saya senang sekaliiii.... Pasalnya, saya sudah lama tidak healing healing cantik kayak istilah anak zaman sekarang untuk menyebut jalan-jalan. Apalagi ke pantai, uhhh sudah lama sekalii tidak menginjakkan kaki di pasir putih ya meskipun warna sebenarnya coklat sih. Mendengar deburan ombak yang samar-samar. Melihat birunya langit yang berdialog dengan birunya air laut. Makan pop mie yang tidak diperbolehkan Bu Capri, tetapi tetap membeli sendiri wkwk maaf ya Bu... Soalnya lapar dan sudah seperti menjadi adat anak muda ini makan pop mie kalau di pantai hehe...     Selain bermain air, pasir, dan berfoto-foto ria. Kami juga bermain games menebak isi di dalam tas yang dimaksudkan sang pemilik barang untuk nantinya diberikan kepada orang yang berhasil menebak dengan benar. Kami secara bergantian melakukannya yang dimulai oleh Bu Capri yang ternyata isinya adalah kurma dan berhasil ditebak oleh Pak Macfud. Kemudian, Bu Mila yang isinya lotion yang berhas...

Sepotong Cerpen

DILEMA Di atas mobil pick up yang melaju di jalanan Solo-Jogja, aku mengistirahatkan sejenak segala pekerjaan yang semestinya aku kerjakan. Aku berada di jalan pulang, setelah mengepak semua baju dan buku untuk kunaikkan di bak pick up milik bapakku. Memang ini kendaraan milik bapak sendiri, tapi bukan bapak yang menyetirnya. Aku ditemani seorang supir, teman baik sekaligus orang kepercayaan bapak. Bukan karena bapak tak sempat, melainkan ada rasa tidak ikhlas jika aku berpindah dari daerah istimewa yang katanya mendewasakan rindu dan menjatuhkan hati setiap pendatangnya untuk ingin menetap di sana. Bapak menghendakiku melanjutkan sekolah untuk mendapatkan gelar magister. Namun, otakku terlampau lelah untuk diajak berpikir lagi sebagai mahasiswa dari universitas ternama di Indonesia. Setelah kucermati, kata lelah tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya terjadi pada diriku. Pasalnya, aku sekarang menerima jasa penyuntingan skripsi dan tesis. Meskipun aku belum menjadi mahasiswa ...