Langsung ke konten utama

Kembali Verifikasi

 

   
    Hari ini adalah Senin Tegang. Kenapa ya kira-kira kok tegang? Ya sebenarnya sih kami tim SPSS tidak sebegitu tegang seperti hari Kamis tahun lalu. Iya, kami kedatangan Tim Dinas Provinsi untuk memverifikasi SMA yang akan kami kelola. Namun, yang menjadi tegang adalah hasil penilaian dari semua pihak dari tim untuk meloloskan perizinan SMA Terpadu Bina Bangsa atau tidak.

    Sama seperti tahun lalu, kami juga menggunakan pakaian merah. Ada juga beberapa wajah yang sudah sangat familiar karena pada tahun lalu mereka sudah menjadi tim verifikator sekolah kami juga. Ada Pak Beno dan Pak Suryo. Ya, dua sejoli yang begitu sulit sejak verifikasi tahun lalu. Ah, rasanya kata sulit kurang tepat ya, bagaimana kalau kita ganti dengan alot. Pak Suryo merupakan verifikator bagian perlengkapan sarana prasarana. Mintanya laboratorium ipa harus ada tiga, kimia, biologi, dan fisika memiliki laboratorium sendiri-sendiri. Ya itu sudah disampaikan sejak tahun lalu juga sih. Terus perpustakaan yang tahun lalu kami tunjukkan memang lebih bagus dan luas sih.
    Oh iya, selain sarana prasarana, ada juga bagian kepegawaian, yaitu kualifikasi dan jumlah pendidik dan tenaga kependidikan yang didampingi oleh Bu Dwi dan Pak Arifin. Selain itu, ada juga yang mengecek tentang kurikulum dan kesiswaan bersama Pak Siswanto yang didampingi oleh Pak Hartono dan Saya. Berikut adalah fotonya.


    Namun, dari semua hal yang dinilai paling alot dan kemungkinan besar menjadi penghalang dari tidak lolosnya perizinan kami tahun lalu adalah perihal tanah. Ya, manajerial itu dinilai oleh Pak Beno yang didampingi oleh Pak Sigit dan Bu Mila. Lagi-lagi yang dipermasalahkan adalah sertifikat tanah yang belum menjadi satu atas nama SMA Terpadu Bina Bangsa.
        Semoga nanti hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan ya aamiin....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Growth Mindset?

      Halo semua...     Hari ini saya akan merefleksi diri saya apakah sudah growth mindset ataukah masih fix mindset. Jika mengingat pemahaman dalam menyikapi masalah dan menjalani hidup yang telah saya lalui beberapa waktu terakhir rasanya saya sudah growth mindset. Salah satunya adalah tidak lagi menganggap musibah yang saya alami menjadi suatu momok menyeramkan yang mematikan segala mimpi dan penuh penyesalan. Saya telah menerima musibah atau masalah tersebut sebagai mahar yang harus saya lalui untuk kembali bangkit lebih kuat lagi dalam menginjakkan kaki di kehidupan yang akan saya jalani.     Namun, tentu saja saya belum sempurna dalam memiliki pemikiran yang berkembang atau  growth mindset. Ada beberapa hal yang kadang masih belum secara refleks terterima dengan growth mindset. Ketika terjadi masalah terkadang merasa sedih terlebih dulu, ada waktu untuk penerimaan baru setelah menenangkan diri, mengambil waktu sejenak untuk menghela napas p...

Healing

      Hari ini saya senang sekaliiii.... Pasalnya, saya sudah lama tidak healing healing cantik kayak istilah anak zaman sekarang untuk menyebut jalan-jalan. Apalagi ke pantai, uhhh sudah lama sekalii tidak menginjakkan kaki di pasir putih ya meskipun warna sebenarnya coklat sih. Mendengar deburan ombak yang samar-samar. Melihat birunya langit yang berdialog dengan birunya air laut. Makan pop mie yang tidak diperbolehkan Bu Capri, tetapi tetap membeli sendiri wkwk maaf ya Bu... Soalnya lapar dan sudah seperti menjadi adat anak muda ini makan pop mie kalau di pantai hehe...     Selain bermain air, pasir, dan berfoto-foto ria. Kami juga bermain games menebak isi di dalam tas yang dimaksudkan sang pemilik barang untuk nantinya diberikan kepada orang yang berhasil menebak dengan benar. Kami secara bergantian melakukannya yang dimulai oleh Bu Capri yang ternyata isinya adalah kurma dan berhasil ditebak oleh Pak Macfud. Kemudian, Bu Mila yang isinya lotion yang berhas...

Sepotong Cerpen

DILEMA Di atas mobil pick up yang melaju di jalanan Solo-Jogja, aku mengistirahatkan sejenak segala pekerjaan yang semestinya aku kerjakan. Aku berada di jalan pulang, setelah mengepak semua baju dan buku untuk kunaikkan di bak pick up milik bapakku. Memang ini kendaraan milik bapak sendiri, tapi bukan bapak yang menyetirnya. Aku ditemani seorang supir, teman baik sekaligus orang kepercayaan bapak. Bukan karena bapak tak sempat, melainkan ada rasa tidak ikhlas jika aku berpindah dari daerah istimewa yang katanya mendewasakan rindu dan menjatuhkan hati setiap pendatangnya untuk ingin menetap di sana. Bapak menghendakiku melanjutkan sekolah untuk mendapatkan gelar magister. Namun, otakku terlampau lelah untuk diajak berpikir lagi sebagai mahasiswa dari universitas ternama di Indonesia. Setelah kucermati, kata lelah tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya terjadi pada diriku. Pasalnya, aku sekarang menerima jasa penyuntingan skripsi dan tesis. Meskipun aku belum menjadi mahasiswa ...