Langsung ke konten utama

Santunan 1000 Yatim

    Hallo teman-teman....
    Marhaban Ya Ramadhan....
    Hari ini adalah hari pertama puasa yang dibuka oleh Yayasan Safin Bina Bangsa dengan mengadakan acara santunan kepada 1000 anak yatim. Bisa dibayangkan bagaimana persiapan dalam menyiapkan 1000 bingkisan itu ya, eh eh tapiii, bingkisan yang dibuat tidak hanya 1000 saja, iya dong masak tamu undangan dan anak-anak SPSS tidak mendapatkan bingkisan. So, kami membuat 1500 bingkisan. Kok kami? Bukannya ini acara diselenggarakan dalam rangka syukuran karena telah diverifikasinya universitas safin pati. Iya, tapi para guru juga membantu mempersiapkan acara.
    Untuk tiga hal yang menarik dari acara ini adalah adanya es krim ehehe... terus mengisi Ramadhan dengan kegiatan positif, yaitu adanya ceramah dari Ustad Abdul Mukarom. Satunya lagi apa ya? Hmm mengamati orang-orang sih, yang berbagai macam dengan tingkahnya.
    Kemudian, untuk dua hal yang bisa diperbaiki adalah tim universitas yang kurang sat set. Ya mungkin sudah lelah dari pagi sehingga pergerakannya jadi slow motion. Kalau yang membantu lebih sat set kan kesannya kurang etis gitu ya. Yang kedua adalah kesigapan tim universitas. Ya meskipun kami semua membantu, tapi kan yang punya hajat mereka sehingga misalnya ketika pembagian es krim mereka seharusnya tidak duduk-duduk manis, sedangkan kami yang diminta tolong untuk membagikan. Seperti ada yang kebalik gitu, ehehe. Terus, untuk siswa SPSS yang yatim atau piatu mungkin bisa menjadi penerima santunan juga karena yang utama kan orang terdekat dahulu dan amplop santunannya juga masih sisa lumayan. Ada siswa yang bertanya juga karena mereka diminta untuk duduk bersama penerima, tapi memang sepertinya tidak masuk data penerima.
    Untuk satu hal yang bisa ditiru tentu saja adalah bersedekah kepada anak yatim.
Oke, segitu saja blog saya kali ini. See you...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Growth Mindset?

      Halo semua...     Hari ini saya akan merefleksi diri saya apakah sudah growth mindset ataukah masih fix mindset. Jika mengingat pemahaman dalam menyikapi masalah dan menjalani hidup yang telah saya lalui beberapa waktu terakhir rasanya saya sudah growth mindset. Salah satunya adalah tidak lagi menganggap musibah yang saya alami menjadi suatu momok menyeramkan yang mematikan segala mimpi dan penuh penyesalan. Saya telah menerima musibah atau masalah tersebut sebagai mahar yang harus saya lalui untuk kembali bangkit lebih kuat lagi dalam menginjakkan kaki di kehidupan yang akan saya jalani.     Namun, tentu saja saya belum sempurna dalam memiliki pemikiran yang berkembang atau  growth mindset. Ada beberapa hal yang kadang masih belum secara refleks terterima dengan growth mindset. Ketika terjadi masalah terkadang merasa sedih terlebih dulu, ada waktu untuk penerimaan baru setelah menenangkan diri, mengambil waktu sejenak untuk menghela napas p...

Healing

      Hari ini saya senang sekaliiii.... Pasalnya, saya sudah lama tidak healing healing cantik kayak istilah anak zaman sekarang untuk menyebut jalan-jalan. Apalagi ke pantai, uhhh sudah lama sekalii tidak menginjakkan kaki di pasir putih ya meskipun warna sebenarnya coklat sih. Mendengar deburan ombak yang samar-samar. Melihat birunya langit yang berdialog dengan birunya air laut. Makan pop mie yang tidak diperbolehkan Bu Capri, tetapi tetap membeli sendiri wkwk maaf ya Bu... Soalnya lapar dan sudah seperti menjadi adat anak muda ini makan pop mie kalau di pantai hehe...     Selain bermain air, pasir, dan berfoto-foto ria. Kami juga bermain games menebak isi di dalam tas yang dimaksudkan sang pemilik barang untuk nantinya diberikan kepada orang yang berhasil menebak dengan benar. Kami secara bergantian melakukannya yang dimulai oleh Bu Capri yang ternyata isinya adalah kurma dan berhasil ditebak oleh Pak Macfud. Kemudian, Bu Mila yang isinya lotion yang berhas...

Sepotong Cerpen

DILEMA Di atas mobil pick up yang melaju di jalanan Solo-Jogja, aku mengistirahatkan sejenak segala pekerjaan yang semestinya aku kerjakan. Aku berada di jalan pulang, setelah mengepak semua baju dan buku untuk kunaikkan di bak pick up milik bapakku. Memang ini kendaraan milik bapak sendiri, tapi bukan bapak yang menyetirnya. Aku ditemani seorang supir, teman baik sekaligus orang kepercayaan bapak. Bukan karena bapak tak sempat, melainkan ada rasa tidak ikhlas jika aku berpindah dari daerah istimewa yang katanya mendewasakan rindu dan menjatuhkan hati setiap pendatangnya untuk ingin menetap di sana. Bapak menghendakiku melanjutkan sekolah untuk mendapatkan gelar magister. Namun, otakku terlampau lelah untuk diajak berpikir lagi sebagai mahasiswa dari universitas ternama di Indonesia. Setelah kucermati, kata lelah tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya terjadi pada diriku. Pasalnya, aku sekarang menerima jasa penyuntingan skripsi dan tesis. Meskipun aku belum menjadi mahasiswa ...