Langsung ke konten utama

Refleksi Setahun Belajar

 


    Waktu memang berjalan begitu cepat. Tahu-tahu sudah satu tahun saya dan yang lain mengenal beliau. Setahun sudah kami yang terpilih ini belajar dan berjalan bersama. Satu tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah proses. Ya meskipun tidak bisa disebut sebagai waktu yang lama, tapi satu tahun cukup untuk saling mengenal dan menata diri.

    Dalam perjalanan satu tahun itu, ada banyak hal yang terjadi. Banyak agenda yang harus diselesaikan, banyak hal baru yang harus ditaklukkan, dan juga banyak hal-hal yang harus dirutinkan. Satu tahun sudah sangat cukup untuk membentuk suatu kebiasaan. Kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang tentu akan melekat dalam diri dan membudaya. Hal itu tentu saja berefek pada kepribadian.

    Beberapa perubahan diri terjadi dalam diri saya. Berbagai tugas yang pada awalnya membuat saya tersiksa dan bertanya, "Kapan ini selesainya?" membuat pikiran saya penuh. Hari-hari saya tidak bisa berjalan dengan santai. Semua seolah dituntut untuk bergerak cepat. Bagaimana tidak, jika saya tidak secara cepat dan sigap dalam menyelesaikannya, yang ada semuanya makin menggunung dan bisa mengubur saya hidup-hidup. Namun, dari tingginya tuntutan pekerjaan itu membuat saya kini terbiasa. Iya, bisa karena terbiasa. Rasanya sudah tidak lagi seberat dulu. Malah kesannya jadi remeh saja pekerjaan yang ada di depan mata. Bukan berarti menggampangkan, tapi pasti akan terselesaikan. Jadi, tidak perlu diambil pusing. Kerjakan saja! Kalau dulu, belum-belum rasanya sudah mual menghadapi seluruh kerjaan karena terlalu pusing memikirkannya, "Bisa selesai nggak ya? Ah gimana ini?" Pertanyaan-pertanyaan menggerogoti isi kepala. Rasanya sudah mau menyerah saja.

    Selain menjadi lebih persisten dalam menyelesaikan sesuatu, saya juga terbiasa untuk membuat perencanaan. Ya sebenarnya saya dari SMP sudah sering membuat perencanaan hidup. Misalnya, jam segini hari ini saya ngapain aja, besok jam berapa ngapain. Agenda setiap hari itu sudah saya buat meski sering juga tidak berjalan sesuai ekspektasi. Namun, kebiasaan merencanakan dengan matang segala halnya itu baru terasa sekarang. Perencanaan yang saya lakukan rasanya lebih mendetail jika dibandingkan dulu, seperti dalam merencanakan kegiatan pembelajaran.

    Setahun bersama beliau juga membuat saya kembali tergugah untuk aktif dalam membaca dan menulis. Ya meskipun pada awalnya sangat tidak memungkinkan sih karena belum terbiasa dengan semua hal yang harus dikerjakan. Namun, sekarang karena semuanya bisa saya kerjakan lebih cepat dan efisien, kesempatan untuk kembali memberi makan kepala saya itu malah muncul. Bahkan, tugas yang diberikan justru seolah mengantarkan saya untuk kembali ke jalan yang saya impikan, yaitu menjadi penulis. Semoga saja saya benar-benar bisa kembali menulis. Sayang sekali agenda menulis yang saya rencanakan di liburan kali ini harus gagal total karena lambung saya sakit. Mana seminggu lagi, lama sekali. Tapi tidak apa, pasti ada hikmah di balik setiap musibah. Dari sakit juga membuat saya menyadari betapa berharganya nikmat sehat yang Allah berikan cuma-cuma selama ini.

    Intinya, dalam pembelajaran saya selama setahun ini, saya menjadi pribadi yang lebih kuat, tidak mudah mengeluh, lebih cekatan, dan lebih terstruktur. Semoga kebiasaan baik akan terus beranak-pinak. Aamiin....

Komentar

  1. terimakasih atas segala ilmu dan bimbingannya. Kami semakin tangguh, cekatan, dan terstruktur

    BalasHapus
  2. Teruslah menjadi pribadi yang lebih kuat, tidak mudah mengeluh, lebih cekatan, dan lebih terstruktur!

    "Today a reader, tomorrow a leader" Margaret Fuller
    Keep reading and keep writing!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Growth Mindset?

      Halo semua...     Hari ini saya akan merefleksi diri saya apakah sudah growth mindset ataukah masih fix mindset. Jika mengingat pemahaman dalam menyikapi masalah dan menjalani hidup yang telah saya lalui beberapa waktu terakhir rasanya saya sudah growth mindset. Salah satunya adalah tidak lagi menganggap musibah yang saya alami menjadi suatu momok menyeramkan yang mematikan segala mimpi dan penuh penyesalan. Saya telah menerima musibah atau masalah tersebut sebagai mahar yang harus saya lalui untuk kembali bangkit lebih kuat lagi dalam menginjakkan kaki di kehidupan yang akan saya jalani.     Namun, tentu saja saya belum sempurna dalam memiliki pemikiran yang berkembang atau  growth mindset. Ada beberapa hal yang kadang masih belum secara refleks terterima dengan growth mindset. Ketika terjadi masalah terkadang merasa sedih terlebih dulu, ada waktu untuk penerimaan baru setelah menenangkan diri, mengambil waktu sejenak untuk menghela napas p...

Healing

      Hari ini saya senang sekaliiii.... Pasalnya, saya sudah lama tidak healing healing cantik kayak istilah anak zaman sekarang untuk menyebut jalan-jalan. Apalagi ke pantai, uhhh sudah lama sekalii tidak menginjakkan kaki di pasir putih ya meskipun warna sebenarnya coklat sih. Mendengar deburan ombak yang samar-samar. Melihat birunya langit yang berdialog dengan birunya air laut. Makan pop mie yang tidak diperbolehkan Bu Capri, tetapi tetap membeli sendiri wkwk maaf ya Bu... Soalnya lapar dan sudah seperti menjadi adat anak muda ini makan pop mie kalau di pantai hehe...     Selain bermain air, pasir, dan berfoto-foto ria. Kami juga bermain games menebak isi di dalam tas yang dimaksudkan sang pemilik barang untuk nantinya diberikan kepada orang yang berhasil menebak dengan benar. Kami secara bergantian melakukannya yang dimulai oleh Bu Capri yang ternyata isinya adalah kurma dan berhasil ditebak oleh Pak Macfud. Kemudian, Bu Mila yang isinya lotion yang berhas...

Sepotong Cerpen

DILEMA Di atas mobil pick up yang melaju di jalanan Solo-Jogja, aku mengistirahatkan sejenak segala pekerjaan yang semestinya aku kerjakan. Aku berada di jalan pulang, setelah mengepak semua baju dan buku untuk kunaikkan di bak pick up milik bapakku. Memang ini kendaraan milik bapak sendiri, tapi bukan bapak yang menyetirnya. Aku ditemani seorang supir, teman baik sekaligus orang kepercayaan bapak. Bukan karena bapak tak sempat, melainkan ada rasa tidak ikhlas jika aku berpindah dari daerah istimewa yang katanya mendewasakan rindu dan menjatuhkan hati setiap pendatangnya untuk ingin menetap di sana. Bapak menghendakiku melanjutkan sekolah untuk mendapatkan gelar magister. Namun, otakku terlampau lelah untuk diajak berpikir lagi sebagai mahasiswa dari universitas ternama di Indonesia. Setelah kucermati, kata lelah tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya terjadi pada diriku. Pasalnya, aku sekarang menerima jasa penyuntingan skripsi dan tesis. Meskipun aku belum menjadi mahasiswa ...