Melihat pertandingan futsal semalam, yaitu final anak SMA dengan anak sekolah lain dari Kabupaten Pati, membuat saya sebagai manusia sekaligus sebagai pendidik merasa prihatin. Betapa banyaknya manusia pembenci, betapa kotor mulut suporter dari pihak oposisi. Apalagi, anak-anak dari Safin Pati Sports School ini adalah lawan dari semua sekolah, bahkan seluruh suporter bola di Pati karena ada riwayat yang kurang bagus sebelumnya dengan Persipa yang merasa disaingi.
Sepanjang permainan, suporter sangat ricuh. Untung anak-anak tidak terprovokasi. Baru dimulai permainan sebentar gawang kami sudah ke golan. Safin Pati Sports School kalah 0-1 untuk sementara dan tiba-tiba listrik mati. Betapa mencekamnya suasana di gelanggang dengan teriakan-teriakan orang-orang yang minim attitude karena kata-kata yang dikeluarkan sungguh tidak mencerminkan orang yang berpendidikan.
Setelah sekitar setengah jam, listrik kembali nyala. Setiap gawang kami kegolan mereka tidak hanya ricuh, tapi juga memprovokasi anak-anak, bahkan sampai memegang bahu dan punggung anak. Apalagi ketika tim Safin Pati Sports School berhasil menyamakan kedudukan dan berhasil lebih unggul. Bahkan, anak-anak hanya beteriak gol saja disamperi oleh anak luar dan diajak bertengkar. Lalu saya lerai dan meminta anak pindah ke depan saya.
Mereka memakai hitam dan menyanyikan lagu untuk mengenang kanjuruhan, tapi yang mereka lakukan juga sama dengan proses kanjuruhan versi verbal. Bahkan, sedikit ke fisik. Mungkin ketika kami yang menang, suasana akan sangat ricuh dan kami terancam karena anak mau ke kamar mandi saja saya larang mengingat kondisi yang tidak kondusif. Pukul hampir menunjukkan dini hari, pertandingan selesai dengan skor 6-6 dan kalah di adu pinalti.
Untuk anak-anak, kalian luar biasa! Kalian bisa membungkam mulut-mulut yang mencaci kalian dengan permainan yang sangat mengesankan.

Komentar
Posting Komentar