Langsung ke konten utama

Satu Tahun Kanjuruhan


Melihat pertandingan futsal semalam, yaitu final anak SMA dengan anak sekolah lain dari Kabupaten Pati, membuat saya sebagai manusia sekaligus sebagai pendidik merasa prihatin. Betapa banyaknya manusia pembenci, betapa kotor mulut suporter dari pihak oposisi. Apalagi, anak-anak dari Safin Pati Sports School ini adalah lawan dari semua sekolah, bahkan seluruh suporter bola di Pati karena ada riwayat yang kurang bagus sebelumnya dengan Persipa yang merasa disaingi.

Sepanjang permainan, suporter sangat ricuh. Untung anak-anak tidak terprovokasi. Baru dimulai permainan sebentar gawang kami sudah ke golan. Safin Pati Sports School kalah 0-1 untuk sementara dan tiba-tiba listrik mati. Betapa mencekamnya suasana di gelanggang dengan teriakan-teriakan orang-orang yang minim attitude karena kata-kata yang dikeluarkan sungguh tidak mencerminkan orang yang berpendidikan.

Setelah sekitar setengah jam, listrik kembali nyala. Setiap gawang kami kegolan mereka tidak hanya ricuh, tapi juga memprovokasi anak-anak, bahkan sampai memegang bahu dan punggung anak. Apalagi ketika tim Safin Pati Sports School berhasil menyamakan kedudukan dan berhasil lebih unggul. Bahkan, anak-anak hanya beteriak gol saja disamperi oleh anak luar dan diajak bertengkar. Lalu saya lerai dan meminta anak pindah ke depan saya.

Mereka memakai hitam dan menyanyikan lagu untuk mengenang kanjuruhan, tapi yang mereka lakukan juga sama dengan proses kanjuruhan versi verbal. Bahkan, sedikit ke fisik. Mungkin ketika kami yang menang, suasana akan sangat ricuh dan kami terancam karena anak mau ke kamar mandi saja saya larang mengingat kondisi yang tidak kondusif. Pukul hampir menunjukkan dini hari, pertandingan selesai dengan skor 6-6 dan kalah di adu pinalti.

Untuk anak-anak, kalian luar biasa! Kalian bisa membungkam mulut-mulut yang mencaci kalian dengan permainan yang sangat mengesankan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Growth Mindset?

      Halo semua...     Hari ini saya akan merefleksi diri saya apakah sudah growth mindset ataukah masih fix mindset. Jika mengingat pemahaman dalam menyikapi masalah dan menjalani hidup yang telah saya lalui beberapa waktu terakhir rasanya saya sudah growth mindset. Salah satunya adalah tidak lagi menganggap musibah yang saya alami menjadi suatu momok menyeramkan yang mematikan segala mimpi dan penuh penyesalan. Saya telah menerima musibah atau masalah tersebut sebagai mahar yang harus saya lalui untuk kembali bangkit lebih kuat lagi dalam menginjakkan kaki di kehidupan yang akan saya jalani.     Namun, tentu saja saya belum sempurna dalam memiliki pemikiran yang berkembang atau  growth mindset. Ada beberapa hal yang kadang masih belum secara refleks terterima dengan growth mindset. Ketika terjadi masalah terkadang merasa sedih terlebih dulu, ada waktu untuk penerimaan baru setelah menenangkan diri, mengambil waktu sejenak untuk menghela napas p...

Healing

      Hari ini saya senang sekaliiii.... Pasalnya, saya sudah lama tidak healing healing cantik kayak istilah anak zaman sekarang untuk menyebut jalan-jalan. Apalagi ke pantai, uhhh sudah lama sekalii tidak menginjakkan kaki di pasir putih ya meskipun warna sebenarnya coklat sih. Mendengar deburan ombak yang samar-samar. Melihat birunya langit yang berdialog dengan birunya air laut. Makan pop mie yang tidak diperbolehkan Bu Capri, tetapi tetap membeli sendiri wkwk maaf ya Bu... Soalnya lapar dan sudah seperti menjadi adat anak muda ini makan pop mie kalau di pantai hehe...     Selain bermain air, pasir, dan berfoto-foto ria. Kami juga bermain games menebak isi di dalam tas yang dimaksudkan sang pemilik barang untuk nantinya diberikan kepada orang yang berhasil menebak dengan benar. Kami secara bergantian melakukannya yang dimulai oleh Bu Capri yang ternyata isinya adalah kurma dan berhasil ditebak oleh Pak Macfud. Kemudian, Bu Mila yang isinya lotion yang berhas...

Sepotong Cerpen

DILEMA Di atas mobil pick up yang melaju di jalanan Solo-Jogja, aku mengistirahatkan sejenak segala pekerjaan yang semestinya aku kerjakan. Aku berada di jalan pulang, setelah mengepak semua baju dan buku untuk kunaikkan di bak pick up milik bapakku. Memang ini kendaraan milik bapak sendiri, tapi bukan bapak yang menyetirnya. Aku ditemani seorang supir, teman baik sekaligus orang kepercayaan bapak. Bukan karena bapak tak sempat, melainkan ada rasa tidak ikhlas jika aku berpindah dari daerah istimewa yang katanya mendewasakan rindu dan menjatuhkan hati setiap pendatangnya untuk ingin menetap di sana. Bapak menghendakiku melanjutkan sekolah untuk mendapatkan gelar magister. Namun, otakku terlampau lelah untuk diajak berpikir lagi sebagai mahasiswa dari universitas ternama di Indonesia. Setelah kucermati, kata lelah tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya terjadi pada diriku. Pasalnya, aku sekarang menerima jasa penyuntingan skripsi dan tesis. Meskipun aku belum menjadi mahasiswa ...