Langsung ke konten utama

Temu Rindu

Katanya, obat rindu adalah bertemu. 

Jumat, 29 April 2024, yang bertepatan dengan hari paskah bagi yang merayakan sekaligus merupakan hari ke17 puasa Ramadan, kami anak-anak yang telah lama tidak bertemu dengan ibu dan bapaknya setelah 8 bulan lamanya akhirnya tuntas membayar rindu.

Kondisi perjamuan malam yang diakhiri foto bersama di depan rumah makan tidaklah sama dengan yang dulu sering dilakukan. Beberapa personil tidak dapat menghadirinya. Sementara itu, beberapa personil lainnya telah datang dengan membawa keluarga. Mungkin kalau beberapa tahun ke depan atau cukup satu tahun lagi saja personilnya akan makin bertambah. Bahkan, ada Bu Devi dan Ira yang entah mengapa sudah berasa dekat meski baru bertemu dua kali. Betapa ramai dan menyenangkannya.

Pada hari-hari sebelumnya, kami sesekali membincangkan Bu Capri dalam momen-momen tertentu yang syarat akan komentar dengan nada khas Bu Capri. Misalnya, ketika Rozzaq tidak mengerjakan, akan ada yang menirukan gaya bicara Bu Capri, "Rozzaq ya, hmm" dan masih banyak lainnya kata-kata yang begitu melekat dari beliau. Bukan memperolok-olok, melainkan bentuk dari kesan yang begitu mendalam di benak kami.

Jika dulu Bu Capri selalu bilang ingin meninggalkan kesan kepada kita, ya beliau berhasil. Seorang ibu cantik manjalita yang negitu sayang dan loyal kepada anak-anaknya. Urusan disiplin dan tegas sudah tidak perlu diragukan. Itu nomor satu. Bahkan kalau ada acara yang di luar kendali kita telat pasti kami akan nyeletuk, "Wah kalau ada Bu Capri habis ini". Tidak hanya Bu Capri, bahkan Pak Esa juga meninggalkan kesan bapak-bapak humoris yang begitu sabar dan ngemong tidak hanya pada Bu Capri, tapi juga ke anak-anaknya.

Pokoknya, pertemuan kemarin adalah pertemuan yang ditunggu-tunggu. Jadi, tidak heran jika sepanjang waktu isinya ngobrol dan ketawa.

Semoga di lain hari, kita dapat berkumpul lagi dengan personil yang lebih lengkap dan kembali mengukir kenangan baru, lagi dan lagi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Growth Mindset?

      Halo semua...     Hari ini saya akan merefleksi diri saya apakah sudah growth mindset ataukah masih fix mindset. Jika mengingat pemahaman dalam menyikapi masalah dan menjalani hidup yang telah saya lalui beberapa waktu terakhir rasanya saya sudah growth mindset. Salah satunya adalah tidak lagi menganggap musibah yang saya alami menjadi suatu momok menyeramkan yang mematikan segala mimpi dan penuh penyesalan. Saya telah menerima musibah atau masalah tersebut sebagai mahar yang harus saya lalui untuk kembali bangkit lebih kuat lagi dalam menginjakkan kaki di kehidupan yang akan saya jalani.     Namun, tentu saja saya belum sempurna dalam memiliki pemikiran yang berkembang atau  growth mindset. Ada beberapa hal yang kadang masih belum secara refleks terterima dengan growth mindset. Ketika terjadi masalah terkadang merasa sedih terlebih dulu, ada waktu untuk penerimaan baru setelah menenangkan diri, mengambil waktu sejenak untuk menghela napas p...

Healing

      Hari ini saya senang sekaliiii.... Pasalnya, saya sudah lama tidak healing healing cantik kayak istilah anak zaman sekarang untuk menyebut jalan-jalan. Apalagi ke pantai, uhhh sudah lama sekalii tidak menginjakkan kaki di pasir putih ya meskipun warna sebenarnya coklat sih. Mendengar deburan ombak yang samar-samar. Melihat birunya langit yang berdialog dengan birunya air laut. Makan pop mie yang tidak diperbolehkan Bu Capri, tetapi tetap membeli sendiri wkwk maaf ya Bu... Soalnya lapar dan sudah seperti menjadi adat anak muda ini makan pop mie kalau di pantai hehe...     Selain bermain air, pasir, dan berfoto-foto ria. Kami juga bermain games menebak isi di dalam tas yang dimaksudkan sang pemilik barang untuk nantinya diberikan kepada orang yang berhasil menebak dengan benar. Kami secara bergantian melakukannya yang dimulai oleh Bu Capri yang ternyata isinya adalah kurma dan berhasil ditebak oleh Pak Macfud. Kemudian, Bu Mila yang isinya lotion yang berhas...

Sepotong Cerpen

DILEMA Di atas mobil pick up yang melaju di jalanan Solo-Jogja, aku mengistirahatkan sejenak segala pekerjaan yang semestinya aku kerjakan. Aku berada di jalan pulang, setelah mengepak semua baju dan buku untuk kunaikkan di bak pick up milik bapakku. Memang ini kendaraan milik bapak sendiri, tapi bukan bapak yang menyetirnya. Aku ditemani seorang supir, teman baik sekaligus orang kepercayaan bapak. Bukan karena bapak tak sempat, melainkan ada rasa tidak ikhlas jika aku berpindah dari daerah istimewa yang katanya mendewasakan rindu dan menjatuhkan hati setiap pendatangnya untuk ingin menetap di sana. Bapak menghendakiku melanjutkan sekolah untuk mendapatkan gelar magister. Namun, otakku terlampau lelah untuk diajak berpikir lagi sebagai mahasiswa dari universitas ternama di Indonesia. Setelah kucermati, kata lelah tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya terjadi pada diriku. Pasalnya, aku sekarang menerima jasa penyuntingan skripsi dan tesis. Meskipun aku belum menjadi mahasiswa ...