Langsung ke konten utama

Opini

 Setelah mendengar video singkat yang diutarakan oleh Ghana, menteri pendidikan di Afrika, saya menangkap maksud yang ingin disampaikan seperti ini, Dalam kurikulum anak harus dirancang untuk berpikir kritis dan berkarakter. Pendidik harus merancang cara untuk menjinakkan anak agar ketika orang dewasa berbicara mereka diam mendengarkan.

Hal ini tentu sangat baik untuk diterapkan. Saya setuju dengan hal itu. Siswa tidak hanya dididik untuk mengetahui materi saja yang sebentar lagi juga lupa, tetapi juga dididik cara berpikirnya sehingga membentuk karakter dirinya. Siswa juga membutuhkan pengajaran kehidupan tentang kesehatan mental diri dan orang lain, seperti cara mengolah emosi.

Di Indonesia jika hendak diberlakukan seperti itu, butuh sosialisasi ke orang tua karena orang tua yang pikirannya masih belum bisa terbuka akan banyak protes atas pengajaran di sekolah yang diterima anaknya. Contohnya, harus ada buku paket tebal, harus pelajaran penuh teori, dan lain sebagainya. Jadi, pendidik tidaklah cukup kuat tanpa dukungan orang tua.

Sekian opini dari sana :)

Komentar

  1. Science is the way of thinking.😄
    ---Chiappetta and Koballa---

    BalasHapus
  2. Dari anak anak juga kadang masih belum bisa diarahkan untuk berpikir kritis

    BalasHapus
  3. yang belum optimal antara guru atau murid ?

    BalasHapus
  4. Saat orang lain berbicara, mereka diam, bagus sangat bagus. Tapi kitajuga perlu strategi bagaimana kita memfasilitasi mereka untuk berkembng dan berpikir positif

    BalasHapus
  5. Perlu pembiasaan berfikir kritis di setiap pembelajaran. Tentunya diiringi attitude dan etika.

    BalasHapus
  6. mungkin bisa mulai disisipkan di modul ajar IKM

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Growth Mindset?

      Halo semua...     Hari ini saya akan merefleksi diri saya apakah sudah growth mindset ataukah masih fix mindset. Jika mengingat pemahaman dalam menyikapi masalah dan menjalani hidup yang telah saya lalui beberapa waktu terakhir rasanya saya sudah growth mindset. Salah satunya adalah tidak lagi menganggap musibah yang saya alami menjadi suatu momok menyeramkan yang mematikan segala mimpi dan penuh penyesalan. Saya telah menerima musibah atau masalah tersebut sebagai mahar yang harus saya lalui untuk kembali bangkit lebih kuat lagi dalam menginjakkan kaki di kehidupan yang akan saya jalani.     Namun, tentu saja saya belum sempurna dalam memiliki pemikiran yang berkembang atau  growth mindset. Ada beberapa hal yang kadang masih belum secara refleks terterima dengan growth mindset. Ketika terjadi masalah terkadang merasa sedih terlebih dulu, ada waktu untuk penerimaan baru setelah menenangkan diri, mengambil waktu sejenak untuk menghela napas p...

Healing

      Hari ini saya senang sekaliiii.... Pasalnya, saya sudah lama tidak healing healing cantik kayak istilah anak zaman sekarang untuk menyebut jalan-jalan. Apalagi ke pantai, uhhh sudah lama sekalii tidak menginjakkan kaki di pasir putih ya meskipun warna sebenarnya coklat sih. Mendengar deburan ombak yang samar-samar. Melihat birunya langit yang berdialog dengan birunya air laut. Makan pop mie yang tidak diperbolehkan Bu Capri, tetapi tetap membeli sendiri wkwk maaf ya Bu... Soalnya lapar dan sudah seperti menjadi adat anak muda ini makan pop mie kalau di pantai hehe...     Selain bermain air, pasir, dan berfoto-foto ria. Kami juga bermain games menebak isi di dalam tas yang dimaksudkan sang pemilik barang untuk nantinya diberikan kepada orang yang berhasil menebak dengan benar. Kami secara bergantian melakukannya yang dimulai oleh Bu Capri yang ternyata isinya adalah kurma dan berhasil ditebak oleh Pak Macfud. Kemudian, Bu Mila yang isinya lotion yang berhas...

Sepotong Cerpen

DILEMA Di atas mobil pick up yang melaju di jalanan Solo-Jogja, aku mengistirahatkan sejenak segala pekerjaan yang semestinya aku kerjakan. Aku berada di jalan pulang, setelah mengepak semua baju dan buku untuk kunaikkan di bak pick up milik bapakku. Memang ini kendaraan milik bapak sendiri, tapi bukan bapak yang menyetirnya. Aku ditemani seorang supir, teman baik sekaligus orang kepercayaan bapak. Bukan karena bapak tak sempat, melainkan ada rasa tidak ikhlas jika aku berpindah dari daerah istimewa yang katanya mendewasakan rindu dan menjatuhkan hati setiap pendatangnya untuk ingin menetap di sana. Bapak menghendakiku melanjutkan sekolah untuk mendapatkan gelar magister. Namun, otakku terlampau lelah untuk diajak berpikir lagi sebagai mahasiswa dari universitas ternama di Indonesia. Setelah kucermati, kata lelah tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya terjadi pada diriku. Pasalnya, aku sekarang menerima jasa penyuntingan skripsi dan tesis. Meskipun aku belum menjadi mahasiswa ...