Langsung ke konten utama

Kriteria Penilaian



    Blog kali ini adalah tentang kriteria penilaian. Awalnya saya sudah membuat kriteria penilaian, tapi tidak dalam bentuk tabel. Lebih sederhana dan mudah dimengerti menurut saya. Namun, setelah zoom pada hari ini, sebagai contoh punya Pak Arifin telah dibenarkan oleh Bu Capri, Sang Konsultan Pendidikan Safin Pati Sport School. Rincian yang dilakukan lebih detail dan membuat pembaca lebih mudah memahami kriteria yang dibuat. Selain itu, range angka juga lebih jelas dan terarah. Hal itu membuat penilaian jauh lebih objektif.

    Untuk membuatnya terasa agak sulit di awal karena harus menyesuaikan dengan bentuk yang dicontohkan. Namun demikian, setelah merenungi dan berpikir sejenak jadi juga sedemikian rupa.

    Menurut saya, kriteria penilaian seperti ini memang sangat penting adanya. Namun, waktu saya sekolah dulu sepertinya tidak menemui. Bahkan, jawaban yang kurang sesuai dengan kalimat guru pun harus ikhlas begitu saja disalahkan. Oleh karena itu, sekarang menjadi guru, saya tidak ingin hal itu terjadi pada murid saya. Yah, meskipun memang anak-anak zaman sekarang lebih cerewet kepada gurunya. Mana berani anak zaman dulu minta nilai tinggi ke gurunya dengan apa yang telah dikerjakannya. Efek globalisasi dan arus media sosial sungguh terasa. Dengan kriteria yang lebih jelas dan detail mungkin dapat mengatadi kecerewetan mereka dan itulah yang saya lakukan selama ini, mengatasi kecerewetan mereka dengan kriteria penilaian yang telah disepakati bersama.


Komentar

  1. Kesepakatan bersama jadi standar dan tujuan yang akan dicapai sehingga mengatasi kecerewatan mereka, sekelumit tentang kriteria penilaian😊

    BalasHapus
  2. apakah saat dialog tidak sesuai teks mempengaruhi nilai bu?

    BalasHapus
  3. pandai pandai berakting nih biar dapat nilai bagus

    BalasHapus
  4. Semakin transparan kriteria penilaian semakin siswa dapat memperkirakan nilai yang di dapat

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Growth Mindset?

      Halo semua...     Hari ini saya akan merefleksi diri saya apakah sudah growth mindset ataukah masih fix mindset. Jika mengingat pemahaman dalam menyikapi masalah dan menjalani hidup yang telah saya lalui beberapa waktu terakhir rasanya saya sudah growth mindset. Salah satunya adalah tidak lagi menganggap musibah yang saya alami menjadi suatu momok menyeramkan yang mematikan segala mimpi dan penuh penyesalan. Saya telah menerima musibah atau masalah tersebut sebagai mahar yang harus saya lalui untuk kembali bangkit lebih kuat lagi dalam menginjakkan kaki di kehidupan yang akan saya jalani.     Namun, tentu saja saya belum sempurna dalam memiliki pemikiran yang berkembang atau  growth mindset. Ada beberapa hal yang kadang masih belum secara refleks terterima dengan growth mindset. Ketika terjadi masalah terkadang merasa sedih terlebih dulu, ada waktu untuk penerimaan baru setelah menenangkan diri, mengambil waktu sejenak untuk menghela napas p...

Healing

      Hari ini saya senang sekaliiii.... Pasalnya, saya sudah lama tidak healing healing cantik kayak istilah anak zaman sekarang untuk menyebut jalan-jalan. Apalagi ke pantai, uhhh sudah lama sekalii tidak menginjakkan kaki di pasir putih ya meskipun warna sebenarnya coklat sih. Mendengar deburan ombak yang samar-samar. Melihat birunya langit yang berdialog dengan birunya air laut. Makan pop mie yang tidak diperbolehkan Bu Capri, tetapi tetap membeli sendiri wkwk maaf ya Bu... Soalnya lapar dan sudah seperti menjadi adat anak muda ini makan pop mie kalau di pantai hehe...     Selain bermain air, pasir, dan berfoto-foto ria. Kami juga bermain games menebak isi di dalam tas yang dimaksudkan sang pemilik barang untuk nantinya diberikan kepada orang yang berhasil menebak dengan benar. Kami secara bergantian melakukannya yang dimulai oleh Bu Capri yang ternyata isinya adalah kurma dan berhasil ditebak oleh Pak Macfud. Kemudian, Bu Mila yang isinya lotion yang berhas...

Sepotong Cerpen

DILEMA Di atas mobil pick up yang melaju di jalanan Solo-Jogja, aku mengistirahatkan sejenak segala pekerjaan yang semestinya aku kerjakan. Aku berada di jalan pulang, setelah mengepak semua baju dan buku untuk kunaikkan di bak pick up milik bapakku. Memang ini kendaraan milik bapak sendiri, tapi bukan bapak yang menyetirnya. Aku ditemani seorang supir, teman baik sekaligus orang kepercayaan bapak. Bukan karena bapak tak sempat, melainkan ada rasa tidak ikhlas jika aku berpindah dari daerah istimewa yang katanya mendewasakan rindu dan menjatuhkan hati setiap pendatangnya untuk ingin menetap di sana. Bapak menghendakiku melanjutkan sekolah untuk mendapatkan gelar magister. Namun, otakku terlampau lelah untuk diajak berpikir lagi sebagai mahasiswa dari universitas ternama di Indonesia. Setelah kucermati, kata lelah tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya terjadi pada diriku. Pasalnya, aku sekarang menerima jasa penyuntingan skripsi dan tesis. Meskipun aku belum menjadi mahasiswa ...